view counter
Buddhistzone.com - Media Pemersatu dan Portal Buddhist Pertama di Indonesia     Jadilah Donatur Tetap Buddhistzone.com dengan Rp. 10.000,- PERBULAN di transfer ke BCA - KCU Bukit Barisan a/n THIEN SANG a/c 3830777601 INFO LEBIH LANJUT Hubungi 06176287103     Mari Bersatu Memajukan Buddha Dhamma     
BestFM.co.id
view counter

Masalah Patung Buddha di Tanjung Balai Belum Selesai

Vihara Tri Ratna Tanjung Balai
Vihara Tri Ratna Tanjung Balai

Buddhistzone.com | Tanjung Balai - Keberadaan patung Amithaba di Vihara Tri Ratna di lokasi reklamasi pantai (Water Front City) Jalan Asahan Tanjung Balai masih menjadi polemik dan permasalahan yang tak kunjung selesai.

Hal ini terungkap dalam rapat dengar pendapat antara DPRD, Pemerintah Kota, Muspida plus dan pihak yayasan Vihara Triratna di gedung dewan, Rabu (1/12).

Rapat dipimpin Wakil Ketua DPRD Hj Zainab Hadi dihadiri Ketua Komisi A Hj Ainul Fuad dan anggota komisi A Said Budi Safril SH, Syahrial Bahkti, Hj Nesi Ariani, Encen Sitorus SH dan Selamat Simangunsong, Pj Walikota Ir H Syafaruddin Nasution MM, Plt Sekda Ir Abrin.

Ketua Komisi A Hj Ainul Fuad mengatakan, masalah ini dianggap telah selesai sesuai MoU oleh Gabungan Islam Bersatu (GIB) bersama Pemerintah Kota dan Muspida Tanjungbalai beserta pengurus Yayasan Vihara Tri Ratna. Pihak yayasan bersedia menurunkan patung Amitabha dari atas bangunan vihara.

Namun pengurus Yayasan Vihara Tri Ratna A Chi alias Toni menyatakan pihaknya masih belum dapat merealisasikan MoU dimaksud. “Sebab penuran rupang (patung-red) Amithaba belum mendapat persetujuan dari umat Buddha dan donatur yang turut menyumbangkan dana,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan A Chi, "jika rupang itu diturunkan/dipindahkan akan sangat melukai hati umat Buddha tidak hanya di Tanjung Balai bahkan Seluruh Indonesia sebab keberadaan rupang Amithaba yang sudah diresmikan Ditjen Agama Buddha, Kementerian Agama RI yang ketika itu dihadiri unsur Pemerintah kota, dan sejumlah pemuka agama di Tanjung Balai."

Masih menurut dia, untuk tidak mencederai umat Buddha dan menjunjung tinggi pasal 29 UUD 1945, sangat diharapkan pengertian berbagai pihak demi terciptanya kerukunan antar umat beragama.

Kapolres Tanjung Balai AKBP Puja Laksana mengatakan, seyogiyanya demi tercipta kerukunan antar umat beragama dan menghindari terjadi gesekan-gesekan semua pihak diharapkan berlapang dada, dan masalah ini hendaknya dapat diselesaikan dengan baik tanpa adanya politisir pihak-pihak lain.

Ketua Pengadilan Agama Tanjung Balai M Paet Hasibuan menjelaskan, persoalan patung Amithaba tidak sampai melukai umat Buddha dalam menjalankan ibadah, hanya saja ini persoalan ikon (maskot) yang tidak dapat diterima oleh kultur masyarakat Tanjung Balai.

Dan jika dipandang dari sudut hukum, adanya MoU merupakan hal yang harus dipatuhi, begitupun jika ada pihak yang merasa keberatan untuk melaksanakan isi kesepakatan, dan apabila semua pihak sepakat, maka MoU yang ada dapat dibatalkan.

Menyahuti berbagai tanggapan, A Chi berjanji akan merembukkan lebih dulu bersama umat Buddha dan para donatur. "Kami mohon waktu untuk itu," ujarnya.

Pj Walikota Tanjung Balai Ir H Syafaruddin Nasution MM menyatakan, "Pihak Pemko akan menunggu hasil rapat, jika memang pihak Vihara setuju patung Amithaba itu diturunkan kemudian ditempatkan pada tempat yang layak, maka Pemko akan membantu dan memfasilitasi prosesnya."

Join Facebook kami di http://www.facebook.com/buddhistzone

Your rating: None (5 votes)

Komentar

Zen's picture

Kutipan : Ketua Pengadilan Agama Tanjungbalai M Paet Hasibuan menjelaskan, persolan patung Amithaba tidak sampai melukai umat Buddhis dalam menjalankan ibadah

Kepada Ketua Pengadilan Agama TanjungBalai yang bijaksana,
Coba posisikan diri anda sebagai umat buddhis, apakah hati anda terluka ?

Dalam memberikan statement, harap dipertimbangkan secara seksama.
darimana anda bs mengatakan umat buddha tidak terluka? umat buddhany yg ngomong? atau anda hanya menebak-nebak?
Janganlah memaksakan ajaran suatu agama kepada agama lain, karena keyakinan dan agama dijamin di negara ini,
Bersikaplah bijak dan cermat, jika patung buddha diturunkan apa efeknya? jika patung buddha tidak jadi diturunkan,apa efeknya?

jika hanya untuk memuaskan dahaga nafsu sekelompok orang yang berusaha memaksakan ajaran agamanya, maka pemerintah tanjung balai tidak lebih hanya pemerintah boneka

Anonymous's picture

Heran dengan masyarakat Indonesia saat ini, terlebih lagi kepada pemerintah yang tidak bisa memberikan solusi kepada masyarakat.

Masalah Patung Buddha Amitabha sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, karena dapat dijadikan sebagai objek wisata.

Jika takut dijadikan ikon Tj Balai, alangkah eloknya jika sebuah bangsa yang maju dapat memikirkan kemajuan bangsa itu sendiri, kenapa tidak dibuat mesjid, gereja, pura yang besar juga. sehingga Kota Tg Balai dapat dijadikan sebagai salah satu kota wisata Religius.

Sungguh disayangkan Pemerintah tidak memiliki pemikiran kesana, sehingga masyarakat juga tidak tercerahkan.

Anonymous's picture

kepada Bapak Presiden dan Wakil Presiden serta Menteri Menteri terlebih2 Menteri Agama serta seluruh umat beragama bangsa Indonesia khususnya sesama Umat Tanjung Balai,
salam sejahtera untuk kita semuanya,
pertama2 kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan yang maha esa dan maha pengasih, ada pun yg ingin saya sampaikan kepada semua pembaca tentang " BHINEKA TUNGGAL IKA "
jangan lah merugikan sesama umat beragama seharusnya kita menguntungkan mereka, kita sesama umat harus saling mendukung jangan memecah belahkan, apakah itu yg diajarkan kepada kita untuk memecah belah sesama umat, mari kita semua berpikir sejenak, jika kita di posisikan dalam keadaan sulit dan kita di sulitkan lagi, apa yg anda rasakan, coba pegang dada anda dan tanyakan hati nurani anda...pasti kita tidak akan mau dirugikan, saya harap saudara/i sebangsa dan setanah air Indonesia, mari kita semua rangkul dan bergandeng tangan untuk mempererat tali persaudaraan agar bangsa Indonesia yg besar akan semakin maju...masih banyak yg harus kita perjuangkan. jika kita terus bergulir didalam ini trus, maka kita akan menghadapi kemunduran bukan kemajuan..jadi cobalah kita bersatu. Hidup Indonesia ku, ku slalu membanggakan mu.

brilian moktar's picture

Akhir2 ini banyak oknum yg menggunakan kekuatan agama utk membuat ketidak harmonisan bangsa Indonesia, dimana yg dibanggakan karena kemajemukan dan keberagaman suku, etnis dan agama. Saya harap semua pejabat pemerintah harus patuh dan menjunjung tinggi UUD NKRI 1945 dan undang-undang2 yg berlaku. kesdepakatan yg tdk sesuai dgn undang-undang itu batal demi hukum. para birokrat dan pejabat pemerintah lainnya hrs bijaksana dalam menyelesaikan masalah. semua umat di republik ini mempunya hak yg sama dimata hukum. Catatan dari : Brilian Moktar,SE ketua komisi E DPRD sumut 2009-2010

Anonymous's picture

Yah, ini semua karena ada pihak yang iri hati dan tidak senang dengan hal berbau Tionghoa, hal ini seperti juga terjadi disingkawang yang masalah patung naga, namun orang dayak singkawang sangat membantu, karena kalimantan bukan daerah jawa yang bisa seenaknya diambil alih kekuasaan oleh melayu, kadang ada tempat ibadah yang mengeluarkan polusi suara namun tidak digubris, hehehe... tipikal orang berotak dengkul...
Makanya indo kagak maju - maju, lihat malaysia yang notabene negara islam asli, namun mereka sangat menjunjung tinggi perbedaan, bukannya kayak indo, katanya negara demokrasi, tapi tindakan sangat berbeda dengan melayu malaysia, malu kadang...

Anonymous's picture

hargai kerukunan umat beragama... kenapa mestti di turunkan, semua umat beragama bebas UUD 45 uda ada umat agama lain juga tidak mempersoal kan patung tsb kenapa mesti pemkot yg ribet???dan lagi pula patung itu emang letak nya di vihara bukan di tengah kota atau apa???

Anonymous's picture

Jadi bingung......

1. Letaknya di Wihara yang memang tempat ibadah umat Buddha
2. Tidak membuat bising, tidak mengganggu ketentraman dan
tidak merugikan masyarakat sekitar dan umat agama lain
3. Tidak memprovokasi orang untuk menganut agama Buddha
4. Tidak melanggar Undang2 yang berlaku

Salahnya dimana sehingga harus diturunkan???
Aku aja yg bukan umat Buddha nggak suka dengan penurunan paksa ini.
Indonesia itu negara Bhinneka Tunggal Ika, junjung tinggi UUD 45!
Jangan hanya karena ulah sekelompok ekstrimis, ada umat beragama yang dilukai perasaannya mentang2 dicap sebagai kaum minoritas.
Orang yang melecehkan agama orang lain pasti tidak menghayati ajaran agamanya sendiri!!